Sondag 14 April 2013

NOMOR PUNGGUNGNYA 15 (KE-2)



Sebelumnya : Jumat, 12 April 2013

“Senang rasanya melihat dia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun hanya bisa aku ketahui dengan membaca blognya. Postingan terakhirnya berisi curhatnya tentang kesendiriannya. Dia masih sendiri. Bodohnya orang-orang yang meninggalkannya. Sangat bodoh. Walaupun itu, sampai sekarang aku masih selalu mendoakannya agar mendapatkan teman yang sangat baik, seseorang yang bisa menerimannya, menemaninya, dan mencintainya. Itu isi dari segala doaku. Aku ingin menjadi teman baiknya. Menemaninya, selalu ada untuknya. Tapi aku tidak bisa dan tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Senang rasanya melihat foto profilnya yang memiliki ekspresi wajah yang khas. Walaupun aku tahu bahwa dia sangat kesepian.”

---------------- Rabu, kira-kira 1 minggu setelah bagian pertama -------------------


Pukul 6.28 pagi aku tiba di sekolah. Aku parkir motorku, meletakkan helm pada bagasi motor kemudian segeraku ke pintu masuk sekolah. Bel tanda masuk berbunyi. Pintu masuk sekolah terdapat dua pintu yang berdekatan, terbuat dari stainless dan kaca seperti pintu supermarket, tetapi ini lebih lebar. Seraya berjalan menuju pintu, didepanku ada seseorang perempuan. Aku melihatnya dari belakang. Aku ingin melihat wajahnya. Tapi rambutnya yang panjang mengalingi pandanganku. Akhirnya tidak aku perdulikan. Masuk ke dalam sekolah. Segeraku mengambil KTP (Kartu Tanda Pelajar) yang berada di dalam dompet. Kartu itu adalah alat absen, karena di sekolahku ini absensi dilakukan dengan sensor. Perempuan di depanku menggesekkan KTP-nya. Kemudian giliranku. Kugesekkan KTP-ku, akantetapi gerakkan tanganku terhenti. Ku kaget saat melihat monitor. Orang yang absensi sebelumku itu ternyata dia. Yah…benar itu dia. Perempuan yang satu minggu lalu kulihat di depan gerbang sekolah. Agak lama kuterdiam melihat monitor itu. Kemudian suara menyadarkanku, suara guru piket yang menyuruhku cepat karena antrian absen yang mulai panjang. Akhirnya kugesekkan KTP-ku. Kemudian menuju kelas jam pertama. Senang rasanya, karena akhirnya aku bisa mengetahui namanya. Karena monitor menampilkan foto, nama, dan NIS saat melakukan absensi. Hari ini aku senyum sepanjang hari dan hari terasa sangat cerah walau saat itu cuaca sedang panas-panasnya. Tak tahu mengapa tapi rasanya aneh sekali setelah mengetahui namanya. Dan nama dia D*** P****** S***.




Vrydag 12 April 2013

NOMOR PUNGGUNGNYA 15 (KE-1)



---------------- Agustus 2008 sekitar 5 tahun yang lalu -------------------

Sore itu terasa begitu aneh tidak seperti biasanya. Udara juga begitu aneh. Suara pun tidak ada sama sekali. Saat itu tepat pukul 17.00. Tepat dihadapanku, kulihat seorang perempuan. Dia mengenakan kaos berwarna putih dan celana basket berwarna abu-abu bergaris hitam disisinya. Kulihat rambutnya sedikit basah dan kaosnya juga sedikit basah di bagian pundak, sepertinya karena terkena rambutnya yang basah. Rambutnya berkuncirkan kuncir rambut berwarna biru. Sangat lama aku terpaku melihatnya. Aneh sekali, waktu terasa berhenti, seperti memberiku kesempatan untuk melihatnya lebih lama. Dia terlihat sangat indah. Dia putih dan tubuhnya cukup tinggi. Kupikir aku sedang melihat bidadari saat itu. Saat itu, dia sedang berdiri tepat di depan gerbang sekolah dan aku di depannya duduk di warung depan sekolah kira-kira berjarak 6m darinya. Sepertinya dia sedang menunggu sesuatu. 

Tak sadar terdiam melamun, pemandangan itu pun sirna. Dia menghilang. Aku tidak tahu kemana. Mungkin karena asyiknya melamun sampai-sampai terlewatkan apa yang terjadi nanti. Terpikir lagi, apa tadi itu khayalan, apa tadi itu cuma mimpi sesaat, apakah itu yang namanya mengigau. Masa bodoh. Aku melanjutkan meminum air yang tadinya terhenti karena kejadian itu. 

Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti latihan salah satu ekskul di sekolah baruku itu, latihan futsal. Dengan masuk di ekskul tersebut, aku banyak mendapat kenalan teman baru. Walaupun latihannya sangat melelahkan padahal ini pertemuan pertama tapi menarik dan seru. Pokoknya hari itu sangat melelahkan.